Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

Lari Cepat Tanpa Garis Finish

Salah satu ciri remaja — yang kayaknya harus ada — adalah selalu ingin ngetren, always up  to date. Saya juga dulu begitu lho. Jaman teman-teman seangkatan saya gandrung musik keras heavymetal saya ikutan. Mulai Deep Purple, Def Leppard, Iron Maiden, dan Metallica, kasetnya saya koleksi. Terkadang bela-belain saya menghemat uang jajan untuk ‘ngemil’ kaset-kaset kesukaan saya itu. Poster-poster mereka juga saya pajang di kamar tidur saya.

Pas tarian patah-patah, break dance, ngetop, saya juga ikutan latihan, meski nggak jago-jago amat. Soal makanan juga demikian. Waktu mulai ngetop Pizza Hut dan burger saya juga kepengen nyoba. Penasaran.

Dan pola hidup remaja yang latah pada tren juga saya lihat pada kamu-kamu sekarang ini. Mulai dandanan sampai soal isi perut terpengaruh berat pada tren yang berkembang. Jangan tanya juga soal selera musik dan tontonan. Remaja putri mana sih yang nggak kenal tangtop, pakaian yang nge-street, dsb.Remaja mana juga yang nggak kenal Spiderman, X-Men, Tomb Raider. Kayaknya sedikit sekali remaja seangkatan kamu yang nggak main PS atau gim Championship Manager. Sama sedikitnya dengan remaja yang nggak ngeh pada nama-nama pesepakbola macam Ryan Giggs, Michael Ballack dari dunia sepakbola. Atau, nama pembalap dari arena F1 macam Michael “Schummy” Schumacher bareng adiknya, Ralf, juga Juan Pablo Montoya dari arena balap Formula 1.

Ya, kita memang hidup di jaman yang sudah kena pengaruh globalisasi. Yang kata dua orang futurolog Amerika John Naisbit dan Patricia Aburdene, dunia akan punya selera yang sama dalam soal 3F Fun, Fashion dan Food. Ramalan itu nggak salah-salah amat. Sebagian besar kita rasakan di sini.

Tapi coba kita berhenti sebentar saja dari kegiatan mengikuti tren, berpikir sejenak, apa sih untungnya kita mengikuti kebiasaan seperti itu? Dianggap gaul? Asyik-asyik aja atau apa? Saya harus bilang sama kamu semua, remaja, dari sejumlah tren itu memang ada yang positif tapi nggak sedikit yang negatif. Soal pergaulan, busana, dan gaya bicara, saya lihat ada yang harus kita seleksi dengan ketat.

Soal seks bebas misalkan. Majalah Hai edisi 4-6 Maret tahun 2002 misalkan dengan berani ngangkat soal hubungan seks sebelum nikah, yang menurut mereka it’s OK aja asal dilakukan dengan aman dan bertanggung jawab. Lengkap dengan komentar sejumlah selebritis yang udah terbiasa melakukan perbuatan keji itu. Ini sama sekali nggak sehat.

Atau soal pakaian, khusus untuk kamu anak perempuan, apakah kamu nggak merasa malu atau nggak enak saat pakai busana yang membuka aurat. Juga soal etika bicara dan pergaulan sebagian juga saya lihat negatif, seperti kebiasaan remaja sekarang mengacungkan jari tengah yang dalam etika pergaulan di Barat ‘sono’ adalah sama sekali tidak sopan.

Jadi perlu sekali kita pikir dengan dalam-dalam soal gandrung pada tren. Jangan-jangan kita jadi terperosok pada tren yang negatif. Karena ingin dicap gaul dan tren, ada saja remaja yang mau ngelakuin perbuatan yang mereka sesali kemudian, seperti mengkonsumsi narkoba. Untuk itulah jauh-jauh hari Rasulullah saw. memberikan nasihat pada kita-kita

“Kelak kalian akan mengikuti jalan hidup umat-umat sebelum kalian, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun akan masuk ke dalamnya,”

Sobat remaja, buang jauh-jauh pikiran kalau setiap tren itu selalu baik. Yang terjadi kita akan kebingungan dan kecapaian sendiri. Karena tren tidak pernah ada habisnya, selalu ada yang baru. Lalu, sampai kapan kita akan terus berlari mengikuti tren. Inilah yang saya sebut berlari cepat tanpa ada garis finish. Pasti kamu tidak mau kan?

Yang harus kita lakukan adalah jangan terlalu risau kalau kita tidak mengikuti tren, apalagi bila itu adalah sesuatu yang negatif. Juga jangan diambil hati kalau orang-orang di sekeliling kita meledek kita sebagai remaja yang ‘kuper’, kurang pergaulan. Kenyataannya, berbuat mengikuti omongan orang lain itu melelahkan, mirip satu kisah klasik dari Timur Tengah yang saya dapat dari seorang kawan dekat saya.

Suatu ketika seorang bapak dan anaknya akan bepergian ke luar kota. Karena hanya memiliki seekor keledai akhirnya mereka naik secara bergiliran. Sang ayah kebagian giliran pertama. Tapi baru saja melewati satu kampung, orang-orang yang melihat sang ayah yang naik keledai berkomentar sinis, “Dasar orang tua tidak punya perasaan, masak anaknya disuruh jalan sedangkan ia enak-enak naik keledai.” Merasa tidak enak dengan komentar itu sang ayah akhirnya turun dan menyuruh anaknya naik. Tapi ketika melewati kampung berikutnya, orang-orang kembali berkomentar sinis, “Dasar anak durhaka, ia enak-enakan naik keledai sementara ayahnya berjalan kaki.” Sang anak tidak enak hati dengan ucapan itu. Ia pun turun dari punggung keledai. Agar tidak ada lagi omongan jelek akhirnya diputuskan keledai itu mereka tunggangi berdua. Tapi ketika sampai di kampung yang lain, orang-orang kembali berkomentar, “Kejamnya mereka berdua! Keledai kecil itu harus menanggung beban dua penumpang yang berat. Dasar orang-orang tidak berperasaan!”

Sang ayah dan anak pun kebingungan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Setiap keputusan yang mereka ambil selalu disalahkan orang lain. Sampai akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tidak menunggangi keledai itu. Ketika melewati kampung yang lain, orang-orang yang melihat mereka justru menertawakan keduanya, “Lihatlah orang-orang bodoh itu! Mereka membawa hewan tunggangan tapi tidak mereka naiki sama sekali.”

Jelas, kan? Mengikuti omongan orang atau tren itu melelahkan dan membingungkan. Sulit bagi kita menentukan yang benar dan salah, yang pas dan yang tidak. Karena setiap orang — termasuk tren dan kebiasaan — pasti berlainan.

Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Jawabannya sudah jelas sekali. Bukankah Allah SWT. telah menurunkan agama ini sebagai tuntunan hidup? Lalu kenapa kita tidak memulai untuk menjadikannya sebagai cara kita hidup. Kita jadikan Islam sebagai pedoman cara berpakaian, cara berperilaku, cara berbicara, cara makan, dan juga untuk seluruh kehidupan kita. Nggak menyesal dan tidak akan membingungkan. Jangan terpengaruh pada omongan orang lain soal keislaman kita. Juga nggak usah takut kita dicap fanatik, atau malah fundamentalis. Kalau Allah dan RasulNya sudah menetapkan suatu keputusan bagi kita, pasti itu yang terbaik buat kita. Dengan menjadi muslim yang baik, mengikuti ajaranNya, kita akan mendapatkan ketenangan dan kekayaan hidup. Nggak bakalan pusing dengan omongan orang atau tren-tren di sekeliling kita. Yakinlah Allah nggak bakal menyusahkan kita

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s