Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

Apa yang dinamakan cinta? Menguburkannya atau Menyuburkannya ?

“Ketika seseorang menguburkan CINTAnya, maka kelak kan tertatih dan letih mencari dimana CINTA tersebut Ia kuburkan, Karena CINTA terkubur tanpa batu NISAN“. (Sang Pujangga Revolusi, Padang – di ujung December 2010)

Apa yang dinamakan cinta dan bagaimana menyuburkannya?

Ada seorang ulama besar, bernama Ibn Hazm, yang wafat tahun 456H. Beliau diminta oleh temannya untuk menulis tentang cinta; makna, sebab dan tujuannya. Maka ditulisnya sebuah karangan berjudul “Thauq al Hamamah” (kalung merpati) yang menggambarkan pengalaman pribadinya dan pengalaman orang lain dalam memahami cinta.Ibn Hazm menulis:  “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Ia tidak dapat dilukiskan tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya dan syariat pun tidak melarangnya, karena hati di tangan Rabb, Dia yang membolak-balikannya”Tidak sedikit pakar yang sejalan pandangannya dengan ulama ini ketika ia berkata bahwa “cinta tidak dapat dilukiskan tetapi harus dialami”.

Bagi mereka cinta bukan untuk direnungkan. Memang pandangan ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Tidak sedikit orang yang melukiskan cinta sebagai sesuatu yang puitis: cinta adalah segalanya; cinta adalah kicauan burung dari kilatan mata; cinta bagaikan cermin, jika engkau mencintai orang lain maka engkau menjadi cerminnya dan dia menjadi cerminmu; dan masih banyak ungkapan lain.Ungkapan-ungkapan semacam ini, walaupun indah terdengar, namun ia sangat abstrak dan tidak banyak menolong. Dalam literatur agama ditemukan penjelasan tentang cinta, antara lain bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Kecenderungan ini boleh jadi disebabkan lezatnya yang dicintai, atau karena manfaat yang diperoleh darinya.

Cinta sejati antar manusia terjalin bila ada sifat-sifat pada yang dicintai, yang terasa oleh yang mencintai sesuai dengan sifat yang didambakannya. Rasa inilah yang menjalin pertemuan antara kedua pihak, dalam saat yang sama dicintai dan mencintai.Semakin banyak dan kuat sifat-sifat yang dimaksud dan semakin terasa oleh masing-masing pihak, semakin kuat dan dalam pula jalinan cinta mereka. Demikian kurang lebih uraian ulama besar Ibn Qayyim al Jauziah yang hidup pada pertengahan abad ke 8 H (691-751 H atau 1292-1350 M) dalam bukunya “Raudhat al Muhibbin wa Nuzhat al Muzytaqìn” (Taman Para Pencinta dan Tetirah Para Kekasih). Ingatlah, terjalinnya cinta tidak cukup dengan menghadirkan sifat yang disenangi kekasih pada diri seseorang, tetapi keberadaannya itu harus disadari dan dirasakannya.

Boleh jadi seseorang sangat cantik atau gagah.Boleh jadi juga sangat baik dan jujur. Tetapi, bila itu tidak disadari dan dirasakan, maka keistimewaan ini tidak mengundang cinta.Karena itu jadikanlah pasanganmu merasakan sifat dan sikap yang kita tahu dapat menyenangkannya.  Jangan sampai ia merasakan dari diri kita sesuatu yang tidak disenanginya.Namun ada yang harus digaris bawahi dari semua itu yaitu kita melakukannya dengan “tetap menjadi diri kita sendiri”. Cinta itu bermacam-macam, baik dalam bentuk dan ragamnya maupun dalam kekuatan dan kelemahannya.Ada yang tertancap di dalam sanubari dan ada juga yang hanya bertengger di permukaan hati.Kemudian ada yang bagaikan pohon, akarnya terhunjam ke bawah dan di pucuknya banyak buah namun ada juga yang seumur mawar, sekejap saja kemudian layu. Cinta, tulisan sementara pakar adalah “dialog dan pertemuan antara dua aku; ia adalah hubungan timbal balik yang menuntut tanggung jawab kedua aku itu”.

Seorang ibu yang mencintai anaknya tidak akan memaksakan agar kecintaannya itu sama dengan dirinya atau kelanjutan dari kepribadiannya.Karena jika demikian, yang ada hanya satu “aku”.  Jika benar ia mencintainya, maka ia akan membantu agar anaknya pun memiliki kepribadiannya sendiri sesuai dengan kecenderungan dan potensinya. Dengan demikian sang anak memiliki “aku”nya sendiri, sehingga dapat mencintai dan dicintai. Cinta menuntut pengakuan eksistensi, bahkan pengakuan kepribadian seorang kekasih. Sungguh banyak hambatan bagi suburnya cinta.Salah satu di antaranya adalah cemburu yang berlebihan. Cemburu adalah manusiawi.Istri Rasulullah; Aisyah ra, menyatakan bahwa beliau sering cemburu, bahkan Nabi SAW pun pencemburu.

Dari Abi Hurairah ra;Ketika sahabat-sahabat beliau membicarakan sifat Sa’id bin Muadz yang dikenal amat pencemburu, beliau berkomentar:Sesungguhnya dia pencemburu, dan aku lebih pencemburu daripada dia (HR Muslim). Cemburu ada dua macam, yaitu yang tanpa dasar dan yang berdasar,

Yang pertama menguburkan cinta dan yang kedua menyuburkannya.

Imam al Ghazali berpesan:  “Jangan biarkan kekeliruan tanpa teguran, namun jangan pula berburuk sangka, kaku dan mencari tahu yang tidak-tidak.”Entah yang mana yang lebih besar kecemburuannya, lelaki atau perempuan. Namun yang jelas istri lebih berpotensi untuk cemburu ketimbang suami, karena agama dan budaya manusia telah menutup pintu serapat-rapatnya bagi mereka untuk memiliki pasangan ganda. Dan hal ini berbeda dengan suami, karena walaupun pintu poligami tidak terbuka namun masih ada celah yang dapat mengantarkannya kesana. Pencemburu sering kali tidak mengetahui dimana kakinya berpijak, sehingga keseimbangannya amat terganggu.Karena itu jika kita datang terlambat, dan terdengar gerutu atau makian, janganlah menganggapnya marah dan jangan pula di sambut dengan kemarahan, sebab gerutu itu adalah cinta yang di ekspresikan secara keliru akibat gangguan keseimbangan.

Ada pesan dari seorang bijak, katanya: “Jika pasanganmu marah, nyatakan cintamu dengan rayuan“.Ketahuilah, bahwa salah satu cara menyuburkan cinta adalah memperdengarkan kalimat indah ke telinga kekasih.  Agama menganjurkan yang demikian, sampai-sampai Nabi SAW berpesan bahwa bukan suatu dosa “kalimat gombal” yang di bisikkan pasangan ke telinga pasangannya.Jelasnya beliau bersabda:Kebohongan semuanya merupakan dosa atas manusia kecuali dalam tiga hal;Seorang yang “gombal” pada pasangannya untuk menyenangkannya, kebohongan dalam peperangan (karena peperangan adalah tipu daya) dan kebohongan antara dua orang Muslim untuk melakukan “ishlah” antar mereka. (HR Tirmidzi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s