Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

Tidak Ada Yang Instant

Tidak ada remaja yang tidak ingin sukses dalam kehidupan. Siapa sih yang tidak ingin menjadi juara kelas, bisa membuat karya ilmiah yang baik, masuk ke perguruan tinggi favorit, atau hafal Al Qur’an? Atau ketika kita lulus, siapa yang tidak ingin punya penghasilan yang baik, punya mobil bagus barangkali, atau rumah yang nyaman untuk orang tua dan adik-adik kita.

Semua orang ingin berhasil dalam kehidupan dunia. Tapi tidak semua orang paham kalau keberhasilan itu tidak datang tiba-tiba, dan harus diraih dengan cara yang halal. Lebih banyak orang yang terpesona dengan kemilau keberhasilan orang lain, lantas menjadi iri dan berpikir kalau itu semua datang dari langit. Kita sering berpikir kalau meraih kesuksesan itu sama dengan membuat mie instant. Buka bungkusnya, masak dalam air mendidih – bahkan bisa disiram dengan air panas –, tunggu 3 menit, dan langsung dinikmati.
Hey, lihatlah pekerjaan seorang tukang batu. Ia mungkin membutuhkan lima kali pukulan, sepuluh atau malah lima belas kali pukulan untuk membelah sebuah batu. Semakin besar dan kokoh batunya, semakin keras enerji yang harus dikerahkan. Nah, gedung bertingkat yang menjulang ke angkasa dan rumah-rumah yang mewah dibangun dari sejumlah usaha keras para buruh bangunan dan tukang batu. Baju yang kita pakai juga lahir dari sejumlah usaha; pertanian kapas, pemintalan benang, sampai ke usaha konveksi pakaian. Sadarkah kita akan hal itu?
Tidak ada keberhasilan dalam bungkus mie instant. “Roma tidak dibangun dalam satu malam,” kata Julius Cesar. Teman kita yang menjadi juara kelas, para penghafal Al Qur’an, juara lomba karya tulis ilmiah lahir dari sebuah kerja keras. Tanyalah pada para penulis yang sudah punya nama seperti Hilman, Gola Gong, Helvy Tiana Rosa, Muhammad Faudzil Adhim, seberapa keras usaha mereka untuk bisa membuat sebuah tulisan yang bermutu.
Bahkan seorang utusan Allah seperti Rasulullah saw. saja membutuhkan waktu 13 tahun untuk membangun masyarakat Islam. Dengan cucuran keringat, pengorbanan waktu, bahkan penganiayaan di sejumlah tempat seperti di Thaif, berdirilah negara Islam yang pertama di dunia. Di Madinah pun kerja keras itu tidak berhenti. Tercatat Rasulullah saw. memimpin peperangan selama 28 kali. Hasilnya, umat Muslim pun menjadi umat yang lekat dengan kerja keras. Sepeninggal beliau, kita menguasai lebih dari sepertiga dunia selama hampir 13 abad. Firman Allah Ta’ala:

“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”(At Taubah [9]:105).

Keberhasilan bukanlah bakat. Tidak ada orang yang berhasil sekedar mengandalkan bakat. Tidak ada orang di dunia yang bilang pada Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, ‘Hey kalian pantas berhasil karena kalian orang yang berbakat ‘. Seandainya Imam Bukhari hanya duduk-duduk di desanya, Bukhara, Uzbekistan, tentu ia tidak akan menjadi seorang penghafal ribuan hadits dan bergelar ‘amirul mukminin’ hadits. Tapi Imam Bukhari memilih hijrah dari Bukhara ke Jazirah Arab, berkeliling ke banyak tempat untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Sering beliau pergi sejauh ribuan mil hanya untuk mengecek kebenaran satu hadits saja.
Kawanmu yang menjadi hafidzul Qur’an tidak akan pernah hafal 30 juz kalau hanya sekedar tidur-tiduran di rumah. Tapi ia harus melatih dan menjaga hafalannya setiap hari, dan mengkhatamkan Al Qur’an dalam beberapa hari.
Imam Syafi’i sejak masa remajanya adalah seorang yang cinta belajar. Ia rajin mendatangi para alim ulama untuk berguru kepada mereka. Karena bukan orang yang kaya, ulama yang punya nama asli Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i tidak malu mengais-ngais tong sampah untuk mencari lembaran kertas yang masih bisa dipakai untuk menulis. Kamar tidurnya penuh dengan berbagai catatan pelajaran. Tidak aneh kalau pada usia 9 tahun ia sudah hafal Al Qur’an. Ketika mendatangi Imam Malik untuk belajar kitab Al Muwaththa’ ia sudah menghafalnya terlebih dahulu. Padahal waktu itu umurnya baru 10 tahun. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Imam Malik yang mengizinkan Syafi’i muda untuk mengajar dan memberi fatwa kepada masyarakat di umurnya yang ke-15.
Mungkin kamu bilang, ah mereka kan orang-orang yang jenius.
Hey, jenius bukanlah takdir, tapi kerja keras. Dan itu sudah dibuktikan banyak orang di dunia ini. Thomas Alva Edison membocorkan rumus jenius. Katanya, jenius itu adalah 1 persen inspirasi, dan 99 persen kerja keras. Dan itu adalah benar. Lihatlah dunia olah raga, setiap saat ada saja rekor-rekor baru yang dibuat memecahkan rekor lama. Semakin keras usaha seseorang semakin tinggi peluang mereka untuk berhasil.
Jadi kalau kamu ingin menjadi seorang yang sukses, salah satu sifat yang harus kamu miliki adalah kerja keras. Menjadi apapun, kerja keras adalah tumpuannya. Tanpa kerja keras, cita-cita kita sama dengan khayalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s