Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

Salah Satu Rumus Hidup (X = Gaya Hidup – Pendapatan Bersih – Hutang)

Jika X bernilai – maka resikonya adalah Investasi atau Saving
Jika X bernilai + maka resikonya adalah Kecurangan atau Korup

Hidup itu logis, karena ini tidak sedang di surga. Dimana semua tidak bisa datang dengan tiba-tiba layaknya cerita Aladin yang meminta segala hal dari Jin Lampu. Jika itu terjadi, buat apa ada dunia? Buat apa susah-susah beriman, susah-susah belajar mana pahala- mana nista..mana perbuatan bijak mana- perbuatan busuk. Jika semua bisa didapat tanpa mengorbankan sumber daya yang lain.

Dan dari rumus itu pula saya gunakan untuk memetakan resiko seseorang. Resiko buruk dari seseorang yang Gaya Hidupnya tinggi, ya kalau tidak Hutangnya banyak..ya Perbuatan Curangnya banyak.

Resiko buruk dari seseorang yang Hutangnya banyak, ya kalau tidak karena Gaya hidupnya tinggi..ya Pendapatannya sangat rendah. Karena pendapatan bisa dibaca dan dianalisa. Dan bagi orang-orang yang bekerja di sektor tertentu, data pendapatan seseorang dapat dilihat.

Resiko buruk dari seseorang yang “mengaku” Pendapatan Bersihnya tinggi ya kalau tidak karena Hutangnya tinggi (mengakui hutang sebagai pendapatan), ya lebih parahnya mengakui “X” sebagai pendapatan.

Tentunya Gaya Hidup itu bermacam-macam, Gaya Hidup Penyakitan, Gaya Hidup Hedon(Konsumtif-Negatif), Gaya Hidup Investatif(Konsumtif-Produktif), Gaya Hidup Pelit (Tabungan Tinggi), Gaya Hidup Dermawan(Mengelola X negatif dengan memusnahkannya), Gaya Hidup Kleptorupsi (sangat suka nilai X yang positif), dsb.

Dari itu pula saya sangat memahami bahwa memang orang miskin benar-benar mempertaruhkan imannya setiap saat. Mengapa? meski gaya hidupnya sudah rendah..namun pendapatannya jauh lebih rendah dari gaya hidupnya atau bahkan mendekati 0. Jika mau berhutang? apakah akan terus menerus berhutang? tentunya akan ditemukan batas dimana hutang mencapai titik 0 dan bahkan negatif karena jatuh tempo dan harus dibayar,akibatnya -(-hutang)=+hutang dan akan menambah nilai gaya hidup…hingga berakhir pada.. +X Resiko perbuatan curang atau korup. Banyaknya perbuatan pencurian atau bahkan prostitusi dalam skala kecil diisi orang yang kepepet dan sesungguhnya tidak ingin mencuri dan ber”prostitusi”.

Sebaliknya, orang yang cenderung hura-hura juga rentan terhadap perbuatan Curang atau Korup. Jelas nilai Gaya hidupnya sedari awal sudah tinggi. Apabila pendapatannya tidak mampu mengimbangi, diikuti kemampuan berhutang yang makin lama akan terus menurun. Hasilnya pun akan menyebabkan +X dimana resiko berbuat curang atau korup yang besar. Buktinya pun sederhana, mafia berkerah putih di sektor swasta atau bahkan pejabat korup hampir jarang ada yang kesehariannya hidup pas-pasan. Harta yang disitapun tidak mungkin mobil butut, super RSSpun yang masih kredit, dsb kecuali dia kepepet.

“Orang yang me”mapan”kan gaya hidupnya kurang dari pendapatannya cenderung stabil dan lebih tahan terhadap resiko perbuatan curang atau korup karena dengan apa yang ada dia sudah bahagia dan merasa lebih dari cukup untuk bekerja secara produktif. Dia cenderung kurang berpikir untuk mengkaplingi impian masa depannya dengan hutang darimana atau “sabetan” yang mana.”

Rata-rata dari Gaya Hidup tersebut dalam jangka pendek mampu menggambarkan kecenderungan fleksibilitas psikologis dalam mengelola harta. Dan dalam jangka waktu lebih panjang lagi dapat menggambarkan kecenderungan watak seseorang tentunya dalam skala pendapatan yang berbeda.

Dan pesan dari saya:

“Manusia yang cenderung lemah adalah manusia yang hedon. Dia sudah mengkapling-kapling pendapatannya, bahkan hutangnya, atau malah lebih parah calon pendapatan dan calon hutangnya untuk kegiatan konsumtif yang dipenuhi hanya untuk banyak kesenangan nafsunya. Sehingga saat satu dari komponen diatas dicabut sementara, dikurangi, atau bahkan dimusnahkan oleh Tuhan dia akan mengalami gejolak atau kelabilan.

Mungkin anda pikir ini hanya skeptisme saya terhadap orang yang suka hura-hura. Namun secara pribadi ini cukup logis, karena jika dia mampu mengelola gaya hidup kurang dari pendapatan bersihnya. Kehidupannya lebih stabil, bahkan jika pendapatannya dimusnahkan sampai titik tertentu. Terlebih jika dia menggunakan gaya hidup investatif, apabila pendapatannya dimusnahkan melebihi gaya hidupnya maka konsumsi investasinya masih akan mendukungnya untuk menekan gejolak atau kelabilan.” C#
http://bleruangke.multiply.com/journal/item/984

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s