Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

CERPEN Bang ORI19 -belum diedit-

Diatas perairan selat sunda mengitari anak gunung karakatau yang sesekali tampak anggun diantara siluet senja sore itu, ratusan peserta BTPI (Bina Taqwa Pelajar Indonesia) ke 10 tenggelam dalam kesibukan masing-masing diatas Kapal Tanjung Dalpele 972, dan aku sendiri tenggelam dalam takjub atas ciptaan Allah Swt nan memukau.

Dering nokia membuyarkan lamunanku diatas kapal perang terbesar dinegeri ini, “Wa`alaikumussalam, ya Dino, alhamdulilah Bang sehat, bagaimana kabar Dino dengan kawan2 disana ?”… ‘haa, adik-adik santri baru telah hadir, (daurah Santri baru telah dimulai, pikirku), “yop, ma`annajah sukses, InsyaAllah besok sore Bang ori Bang Rizqi dan Ust, Zakiar akan berangkat menuju Padang, acara disini selesai siang besok Ba`da Zuhur”… “ Ya, kemungkinan sampai malam ba`da Magrib”… “ Ya Dino, terima kasih Informasinya”…” wa`alaikumussalam”. Suara serine membuat seluruh peserta gaduh sebagai tanda bahwa waktu rehat telah habis dan bagi pelajar Muslim untuk bersiap-siap menunaikan kewajiban sholat secara berjama`ah dan kebetulan saat ini aku terpilih untuk mengumandangkan Adzan, subhanallah… inilah seumur hidupku Adzan ditengah laut selat sunda diatas kapal perang terbesar dinegeri ini.

***

Sekitar pukul 16:00 burung besi itu mulai meninggalkan bandara Soekarno – Hatta, dan sekitar pukul 17:30 kami baru bisa mendarat di bandara Tabing disebabkan Pesawat mesti berputar-putar sekitar 30 menit datas kota padang disebabkan gangguan cuaca yang tidak memungkinkan pendaratan. Alhamdulillah adalah kalimat toyibah selalu mengucur deras dari mulut kami, seirama dengan rintik hujan diatas atap Bandara Tabing Kota padang, Mobil Pondok Pesantren telah menunggu kami di bandara.

Haa… hari yang melelahkan pikirku, kulihat didepan Ust. Zakiar telah terlelap, begitu juga dengan sahabatku Rizqi yang duduk disamping kanan. Sedangkan aku masih belum mampu memejamkan mata karena terbayang adik-adik santri baru yang pasti lucu-lucu pikirku, dan yang paling mengusik pikiranku adalah menyiapkan “oleh-oleh” buat mereka. Jadi teringat pesan Ust. Zakiar Siang itu “Jangan lupa berbagi ilmu dengan adik-adik yang baru”. InysaAllah Ustaz J

Tanpa terasa mobil telah memasuki gerbang pondok, keributan dan kehebohan mulai terdengar ba`da maghrib itu, aku dan sahabatku Rizqi langsung bergegas ke asrama untuk menunaikan sholat Mahgrib, sementara Ust. Zakiar menuju ke kantor akademik, beliau adalah Waka Kesiswaan saat itu, sementara kami adalah salah satu pengurus IPST (OSIS) pada periode itu. Kedatangan kami di Asrama disambut dengan gembira oleh teman-teman dan adik-adik santri yang lain, bergegas aku dan rizqi menuju ruangan kelas yang telah disulap menjadi ruang makan untuk santri baru yang sedang menjalani acara daurah (acara orientasi santri baru) di Pondok kami.

Diruangan makan tersebut suasana begitu gaduh, semua santri baru sudah melebur dan tampak saling kenal, tentu saja karena daurah sudah berjalan dua hari pikirku. Suasana makan malam saat itu kami sulap menjadi suasana makan malam di Kapal Perang tempat kamai menjalani pelatihan BTPI, dan saat itu ruangan makan peserta santriwati menjadi tanggunganku sedangkan yang ruangan makan santriwan menjadi sudah dihandle oleh rizqi lebih dulu. Memang suasana malam itu begitu berbeda, mengingatkanku suasana empat tahun yang lalu. Kuperhatikan satu persatu santri baru itu, semua terlihat lucu dan lugu, sesekali ada beberapa santriwati yang melirikku sembari berbisik-bisik, entahlah… entah apa yang mereka biacarakan, sepertinya ada yang sudah mengenaliku jauh sebelum ini.

hei… itu yang bisik-bisik, lagi ngomongin apa?”, tegurku dengan nada agak datar. Sontak mereka agak takut juga, lalu seulas senyumanku kembali membuat mereka tenang dan menjawab “ndak ada Bang, kami kira Abang itu Ustaz disini, padahal kan bang masih kelas V kan, sekelas sama ka Ulya Azizah, Bang yang Ketua IPST Putra kan ?” jawabnya dengan panjang lebar, (Maklum, gayanya memang agak tomboy). Seulas senyuman tetap mejadi jawaban bagi pertanyaannya yang panjang lebar J.

“PERHATIAN !!!” teriakku, semua terdiam dari kegaduhan saat akan malam itu dmulai. “acara makan malam kali ini berbeda, setiap akan makan malam, makan pagi dan makan siang besok dan selanjutnya, adik-adik semua harus mengikuti aturan ini, pertama, akan ditunjuk salah satu diantara peserta daurah untuk menjadi ketua kelompok untuk kegiatan makan malam tersebut. Setiap acara akan dimulai diharuskan bagi ketua kelompok melihat kesiapan pelaksanaan kegiatan makan tersebut, dan Kedua, setelah semua peserta terlihat siap (baik itu tempat, alat, dan kesediaan makanan) maka Ketua kelompok harus melapor kepada Ketua Panitia Konsumsi Pelaksanaan Daurah di ruangan tersebut (ruang makan)”. Finnaly acara makan malam daurah santri baru saat itu disulap ala Militer ketika pelatihan yang telah kami jalani di kapal perang tersebut.

Namun ada yang menjadi perhatian bagiku malam itu, dua orang Santriwati yang selalu saja berdua, dan kagum tentu saja karena… (to be continued….)

3 responses

  1. Subhaanallah. Pengalaman yang pantas di inGat dalam memori. “Bina Taqwa Pelajar Indonesia”…🙂

    18 Februari 2012 pukul 5:10 PM

    • Alhamdulillah,

      semoga setiap tahunnya adik-adik Ponpes Sumatera Thawalib Parabek mendapat undagan terus untuk mengikuti Acara yg bermanfaat ini efda🙂

      22 Februari 2012 pukul 12:42 PM

    • wah berati Efda juga Alumni BTPI tuh,
      waktu zaman Bang (BTPI yang ke-10), kami yang pergi hanya berdua (Bang Ori dan Bang Rizqi).

      15 Maret 2012 pukul 8:29 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s