Perubahan mendasar dan totalitas berdasarkan Al Quran & Sunnah

Welcome to > Sang Pujangga Revolusi Zone

Secangkir pemikiran hangat ditengah kondisi sosial yang dingin, Terbitlah sinar merekah Ideologi Suci yang siap menyinari revolusi suci ini, Terbetiklah kisah para pengembang dakhwah menyongsong Daulah Islamiyah.

Terbaru

= Lukisan Kehidupan =

ditulis oleh: Bang OriSang Pujangga Revolusi (Hak Cipta Milik Allah Swt) silahkan dicopy dengan mencantumkan nama penulis ^_^

LUKISAN KEHIDUPAN

Jika boleh diibaratkan…
maka umur adalah ibarat lembaran kehidupan,
setiap lembaran baru, dihiasi dengan warna warni
itulah warna warni kehidupan, dan…
setiap warna telah ditentukan.

kita tidak dapat merubahnya…
namun kita dapat melukis diatasnya dengan indah,
kita berharap…
itulah LUKISAN KEHIDUPAN.

tiap tahunnya…
lembaran putih itu menjadi lukisan yang beraneka ragam.

jika kita mampu melihat,
maka sudah berapa banyak lukisan yang terpajang dalam kehidupan,

setiap sudut terlihat tidak rata,
kita malah menyebutnya itu “MASALAH”
namun…
kita juga bisa katakan “disitulah SENINYA”,
maka orang bijakan bilang:
itulah ” SENI HIDUP “.

dan disini…
dilembaran baru ini…
semua berdoa akan hadirnya lukisan kehidupan yang menginspirasi banyak orang.

semoga Allah Swt memberkahi setiap langkah dan ayunan tangan kita semua dalam melukis lembaran kehidupan yang baru ini.

BarakaLLahu lanaa ^_^

###syair ini didedikasikan untuk semua adik-adik yang mengawali lembaran baru dalam hidupnya (yang sedang Memuhasabah Ulang Tahunnya) dan pada tanggal 19 June 2012 syair ini tercipta.

Rasulullah Saw bersabda: “Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Kuraib dari Zaid bin Habbab dari Muawiyah bin Shalih dari Amr bin Qais dari Abdullah bin Busr Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang terbaik?” Beliau bersabda,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ .

“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Peristiwa Bersejarah dalam Islam di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan suci (haram) yang telah Allah tetapkan sejak diciptakannya langit dan bumi. Hal ini memberikan keistimewaan tersendiri bagi bulan Rajab. Selain itu, kedatangan bulan Rajab juga sering dipandang sebagai semakin dekatnya Ramadhan, tuan dari segala bulan. Karenanya, kaum muslimin menyambutnya dengan doa atau mengisinya dengan persiapan menyambut bulan puasa. Mereka yang mempunyai hutang puasa di tahun sebelumnya akan bersegera mengganti puasa tersebut di bulan ini.

Meskipun tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan pada bulan Rajab, namun bulan ini dipandang istimewa oleh sebagian besar kaum muslimin karena adanya peristiwa Isra’ dan Mi’raj (Benarkah Isra’ Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab?). Peristiwa bersejarah itu menjadi istimewa karena sejak saat itulah kaum muslimin diwajibkan melaksanakan sholat lima waktu. Ibadah sholat ini menjadi pilar utama agama islam dan menjadi indikator amal kebaikan seseorang di mata Allah.

Peristiwa Bersejarah dalam Islam di Bulan Rajab

Bulan Rajab juga menjadi saksi dari beberapa peristiwa bersejarah dalam islam, yaitu Perang Tabuk, Penaklukan Yerusalem oleh Shalahuddin Al Ayubi, dan Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah Turki.

Pada bulan Rajab tahun 9 H, Rasulullah saw. bersama 30 ribu pasukan kaum muslimin pergi meninggalkan Madinah menuju Tabuk di wilayah Syam (Suriah). Ekspedisi ini bertujuan untuk menghadapi pasukan Romawi yang sudah bersiap di sana. Pasukan kaum muslimin bergerak menembus panasnya cuaca saat itu melewati ratusan kilometer gurun pasir. Mendengar kedatangan pasukan yang sedemikian besar dan pantang menyerah serta dipimpin oleh Nabi Muhammad sendiri, pasukan Romawi sudah merasa kalah. Mereka berkecut hati dan mundur ke benteng mereka. Akhirnya, kaum muslimin berhasil menguasai Tabuk tanpa perlawanan yang berarti. Dengan kemenangan dalam Perang Tabuk ini, maka kekuatan islam memperkokoh kedudukannya di seluruh Jazirah Arab.

Di bulan Rajab pulalah, pada tahun 583 H (1187 M), Shalahudin Al Ayubi memimpin pasukannya berangkat keYerusalem untuk membebaskannya dari cengkeraman pasukan perang salib yang telah menguasainya selama hampir satu abad. Beberapa bulan sebelumnya, pasukan Shalahudin juga telah mengalahkan 2 pasukan perang salib dalam Perang Hittin. Kemenangan Shalahudin sangatlah istimewa karena berhasil mengembalikan bumi Isra’ Mi’raj dan kiblat pertama kaum muslimin ke dalam pangkuan islam. Selain itu, kemenangan ini juga mencegah penguasaan kaum kristiani atas tanah dan negeri kaum muslimin.

Selain kemenangan bersejarah, bulan Rajab juga menjadi saksi kekalahan dan kemunduran kaum muslimin. Tujuh ratus enam puluh tahun kemudian, tepatnya pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M), Khilafah Islamiyah dihapus secara resmi oleh Mustafa Kemal Pasha di Turki. Institusi yang menyatukan seluruh kaum muslimin di dunia ini hancur pada saat itu. Tidak ada lagi satu institusi yang menjadi pelindung bagi kaum muslimin secara global. Tidak ada lagi institusi yang menjamin terlaksananya syariat islam dan hukum-hukum Allah di muka bumi. Tameng pelindung jiwa, kehormatan, harta dan kekayaan kaum muslimin telah dilenyapkan sehingga kaum muslimin hanya menjadi santapan lezat yang diperebutkan oleh kaum kolonialis dan kapitalis. Khilafah itu kini berganti menjadi negara-negara sekuler yang tercerai berai di seluruh dunia.

Peta kekuasan wilayah islam - kemenangan dan kekalahan di bulan rajab.

Demikianlah beberapa peristiwa sejarah penting yang terjadi di bulan Rajab. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran darinya.

=Rutinitas Tanpa Batas=

Deraian Tasbih Pagi diatas sajadah dalam dekupan kitab suci,
Setiap Insan berurai air mata, menengadah, mohon ampunan Rabbi,
gemuruh pilu tersekat diantara rongga dan dada,
teringat hidup diantara maksiat dan kubangan dosa,
menampar lamunan dari kefanaan dunia.
(Padang, 15 Oct 2011 – 00:35, recycle at 11 June 2012, by: Sang Pujangga Revolusi)

‎=Sebuah sajak di akhir pekan=

by: Sang Pujangga Revolusi.

“just a minute”,
Belum saatnya untuk dikatakan,
bukan berarti tak punya keberanian,
karena…
ini tentang sebuah sucinya ikatan dan juga tak hanya sekedar kata “pernikahan”
semua butuh kesabaran,
hingga waktu yang telah dijanjikan-Nya…
berbuah keaneka ragaman Kebahagian penuh keberkahan. ^_^
dan satu perasaan terucapkan “its so enchanted (SubhanaLLah) like angel guardian”
#Padang, 26 Mei 2012 ditepi senja berawan#

-direcycle dari status fb pada tanggal tersebut-

PREDIKSI & ANALISA INTELIJEN AMERIKA TERHADAP ISLAM di 2020

Desember 2004 lalu, National Intelligent Council (NIC) Amerika Serikat me-rilis sebuah laporan yang berjudul ‘Mapping the Global Future’, dalam laporan ini di-prediksi Empat Skenario Dunia Tahun 2020, sbb:

Dovod World: Digambarkan bahwa 15 tahun kedepan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia
Pax Americana: Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax America-nya
A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat
Cycle of Fear (muncul-nya lingkaran ketakutan), didalam skenario ini, respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku, akibatnya akan lahir dunia ‘Orwellian’ ketika pada masa depan manusia menjadi budak bagi satu dari tiga negara otoriter.

Terlepas dari apa maksud dibalik tulisan dalam prediksi skenario dunia tersebut diatas, paling tidak, kembalinya Khilafah Islam di kalangan analisis dan intelijen Barat termasuk hal yang diperhitungkan kemungkinan-nya, namun ironisnya masih ada saja kaum muslim yang justru berkata : Khilafah itu utopis (khayalan semata) !!! ???

Potensi Kepemimpinan Islam sedunia :
Potensi Islam sebagai pandangan hidup, yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan & mampu menyatukan negeri dan umat seluruh dunia!
Potensi sumber daya alam (sda) diseluruh negeri-negeri muslim, yang akan menghimpun dan menyatukan potensi 60% deposit minyak dunia, 49% boron, 50% fosfat, 27% strontium, 22% timah, dan uranium yang tersebar di dunia Islam.
Potensi geopolitik yang strategis dikawasan jalur laut dunia.
Potensi Penduduk sebesar 1,5 miliar diseluruh dunia
Potensi untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik, mengingat telah gagal-nya peradaban kapitalisme barat dalam menciptakan tatanan dunia yang aman, sejahtera dan adil

*/ Khilafah, adalah negara Islam global yang dipimpin oleh satu orang Khalifah untuk seluruh dunia dengan asas ideologi (pandangan hidup) Islam; ajaran Islam tidak menjadi hanya agama ritual semata, namun Islam juga mengatur seluruh aspek kehidupan, serta mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kehidupan manusia; Sistem inilah yang pernah menyatukan umat Islam di-seluruh dunia dimulai dari masa Rasulullah di-Jazirah Arab, Afrika, Asia, sampai Eropa; Islam mampu melebur berbagai bangsa, warna kulit, suku ras, agama yang berbeda, serta memegang kendali hampir setengah peradaban dunia.

AWAS “GEMPA” PACARAN

Assalamualaikum Sahabat ^_^,

taukah anda, bahwa Pacaran itu tabiat jahiliyah,

PACARAN bikin Manusia jadi ternoda,

PACARAN bikin Manusia jadi mantan (red- Bekas),

PACARAN bikin Manusia jadi-jadian,

SELAMATKAN GENERASI dari Perbuatan Tercela PACARAN.

eits… Cinta dan Mencintai adalah fitrah manusia, namun bukan via PACARAN.

Menikah adalah lebih baik, jika tak s…anggup, perbanyak PUASA ^_^

“Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah (Yang mampu menikah dengan berbagai persiapannya) hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud

penjelasan lebih lanjut:

tafsiran dari sajak dan kampanye diatas,

Manusia jadi ternoda karena Pacaran, karena aktivitas Pacaran penuh dengan intrik dan tipudaya syetan.

Manusia jadi mantan, karena tidak sedikit pelaku pacaran putus ditengah jalan kemudian bilang sana…… sini, “Ooo… itu mantan gue”, atau “mmm… itukan mantannya si itu”.. na`uzubillah.

nah Manusia jadi-jadian (out of control), banyak kasus buah dari aktivitas Pacaran hamil diluar nikah s/d aborsi, na`uzubillahi min dzalik.

“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu’, dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (Qs.Al Ahzab: 35)

“jika mereka berpaling Maka Katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (QS. Fushilat, 41: 13).

Secarik Pesan antar sesama Sahabat,

Bukan Sekedar mengingatkan, bukan pula sok taat

karena hari ini kita bukan sekdar sahabat ^_^

marilah Sobat, jaga Iman, patuhi dan Ingat

sabda Rasulullah Saw:

“Hendaknya seorang pria tidak berduaan dengan seorang wanita, kecuali bersamanya seorang mahram (HR Muslim).”

Scriptwriter by:  Sang Pujangga Revolusi on the moment Gempa Sumatera 11 APRIL 2012

KENAIKAN BBM (TANPA MENUNGGU 6 BULAN PUN) = HARAM

KENAIKAN BBM (TANPA MENUNGGU 6 BULAN PUN) = HARAM

Refleksi atas keputusan “cacat” sidang paripurna DPR.

Pada 1 April 2012 Pemerintah berencana berupakan patokan harga BBM dari Rp 4500,- menjadi Rp 6000,-. Perubahan harga dari satu patokan/pembatasan ke patokan yang lain sejatinya masih termasuk tas’iir. Jika konsisten dengan keharaman pembatasan harga (tas’iir) mestinya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM juga harus diharamkan.

Kedua, BBM sejatinya komoditas haram diperjualbelikan kepada rakyat. Karena rakyat adalah pemilik sejati dari komoditas ini (termasuk di dalamnya adala Migas, batu bara, emas, timah, tembaga,dll). Dalilnya adalah:

Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud, Imam An Nasaaiy, dan lain-lain, menuturkan sebuah hadits bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

الناس شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

“Manusia itu berserikat (bersama-sama memiliki) dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api”. [HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasaaiy, dll). Dalam hadits yang diriwayatkan Ibn Majah dari Ibn Abbas ada tambahan,”Dan harganya haram”:

المسلمون شركاء في ثلاث في الماء والكلأ و النار وثمنه حرام

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput, dan api, dan harganya haram”.[HR. Imam Ibnu Majah]

Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa kaum Muslim berserikat terhadap tiga jenis barang, yakni air, padang rumput, dan api. Kata al-syuraka’ merupakan bentuk jamak dari kata al-syarik, berasal dari kata al-syirkah atau al-musyarakah yang berarti khilt [al-milkayn (campuran dua kepemilikan) atau sesuatu yang dimiliki oleh dua orang atau lebih]. Imam Ibnu Mandzur dalam Kitab Lisaan al-’Arab menyatakan:

الشِّرْكَةُ والشَّرِكة سواء مخالطة الشريكين يقال اشترَكنا بمعنى تَشارَكنا وقد اشترك الرجلان وتَشارَكا وشارَك أَحدُهما الآخر …وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم أَنه قال الناسُ شُرَكاء في ثلاث الكَلإ والماء والنار قال أَبو منصور ومعنى النار الحَطَبُ الذي يُستوقد به فيقلع من عَفْوِ البلاد وكذلك الماء الذي يَنْبُع والكلأُ الذي مَنْبته غير مملوك والناس فيه مُسْتَوُون

“Asy-Syirkah wa al-Syarikah sama saja, yakni mukhaalithah al-syarikain (bercampurnya dua peserikat). Dikatakan, “Isytaraknaa (kami berserikat), maknanya adalah “tasyaaraknaa (kami saling berserikat).Wa qad isytaraka al-rajulaan (dua orang laki-laki berserikat), artinya adalah tasyaaraka (keduanya saling berserikat), dan satu dengan yang lain saling berserikat…Diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, “Manusia saling berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air, dan api. Abu Manshur berkata, “Makna al-naar (api) adalah kayu yang digunakan untuk membakar dan ditebang dari tempat yang jauh. Demikian juga air yang berasal dari mata air, dan padang rumput yang tumbuh yang tidak ada pemiliknya, maka, seluruh manusia memiliki hak yang sama di dalamnya..[Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-‘Arab, juz 10/448]

Kata ”al-syurakaa’” dengan makna ”bercampurnya kepemilikan, juga disitir di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:

فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ (12)

”Jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya”. [TQS An Nisaa’ (4): 12]

Imam al-Baidlawiy menafsirkan frase [Fahum shuraka’ fi tsuluts’] dengan:

{ فَلِكُلّ واحد مّنْهُمَا السدس فَإِن كَانُواْ أَكْثَرَ مِن ذلك فَهُمْ شُرَكَاء فِي الثلث } سوى بين الذكر والأنثى في القسمة

”[Falikulli waahid minhumaa al-sudus fain kaanuu aktsara min dzaalik fahum syurakaa` fi al-tsuluts]: disamakan antara laki-laki dan wanita dalam bagian (perolehan)..”[Imam al-Baidlawiy, Anwaar al-Tanziil wa Asraar al-Ta`wiil, juz 1/435]

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa makna ”syurakaa`” adalah sama-sama memiliki bagian dan andil yang sama. Tidak disebut ”perserikatan” (syurakaa’) jika orang-orang yang berserikat dalam sebuah perserikatan tidak memiliki kesamaan dan kesetaraan dengan pihak lain dalam urusan yang diperserikatkan.

Walhasil, jika dinyatakan ‘al-muslimun syuraka’ fi tsalats’, berarti seluruh kaum Muslim sama-sama memiliki hak, andil, dan bagian yang sama dalam tiga jenis benda yang disebutkan dalam hadits di atas, yakni: air, padang rumput, dan api.

Atas dasar ini maka haram menjadikan BBM sebagai komoditas yang diperjualbelikan kepada rakyat. Jikapun dijual hanya sekedar untuk mengganti biaya produksi dan distribusi. Kesimpulannya BBM tidak termasuk dalam pembahasan hadist yang melarang pembatasan harga di atas. khilafah1924.org

Ancaman Neraka bagi Para Pendosa

Selain penting untuk selalu meyakini adanya surga-sebagai balasan bagi pelaku ketaatan kepada Allah SWT-agar selalu terdorong untuk melakukan amal-amal kebajikan, setiap Muslim sejatinya harus selalu meneguhkan keyakinan dalam dirinya tentang adanya neraka sebagai balasan atas ragam kemaksiatan manusia kepada Allah SWT di dunia. Keyakinan tentang adanya neraka ini penting sebagai salah satu cara agar kita senantiasa hati-hati dan waspada dari segala bentuk perbuatan dosa. Sayangnya, keyakinan semacam ini sering hanya sebatas ada dalam hati dan ucapan di lisan. Pada praktiknya, tak sedikit Muslim yang justru dalam kesehariannya banyak melakukan amalan-amalan ahli neraka; seolah-olah mereka tidak takut terhadap dahsyatnya azab neraka. Buktinya: Korupsi makin menjadi-jadi. Suap-menyuap makin banyak terungkap. Perselingkuhan dan perzinaan makin transparan. Penyalahgunaan narkoba makin terbuka. Perkosaan makin gila. Pamer aurat makin dianggap biasa. Kejahatan makin merajalela. Sebaliknya, penegakkan hukum malah makin amburadul, dan keadilan makin jauh panggang dari api.

Semua itu boleh jadi karena orang saat ini sepertinya sudah tidak merasa takut lagi terhadap ancaman azab neraka. Kesadaran tentang dahsyatnya azab neraka seolah hilang dalam benaknya. Akibatnya, banyak orang tak lagi ragu dan malu untuk melakukan ragam dosa dan kejahatan. Padahal Allah SWT telah berfirman di antaranya (yang artinya): Takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan bebatuan (TQS al-Baqarah [2]: 24).

Orang-orang kafir dan yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (TQS al-Baqarah [2]: 39).

Katakanlah,Api Neraka Jahanam itu amatlah panas jika saja mereka mengetahuinya.” (TQS at-Taubah [9]: 81).

Tempat mereka adalah Neraka Jahanam sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (TQS at-Taubah [9]: 95).

Kami menampakkan Neraka Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas (TQS al-Kahfi []: 100).

Niscaya kalian benar-benar akan melihat Neraka Jahim (QS at-Takatsur []: 6-7).

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami mengganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan (kerasnya) azab (QS an-Nisa’ [4]: 56).

Maka dari itu, Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala; tidak masuk ke dalam neraka itu kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman) (QS al-Lail [92]: 12-16).

Selain sejumlah ayat di atas dan ayat-ayat lainnya yang banyak jumlahnya, ancaman neraka yang amat dahsyat dengan aneka jenisnya juga disebutkan dalam banyak hadis Nabi saw. Di antaranya adalah sabda Nabi saw. yang menyatakan, “Sesungguhnya siksaan paling ringan yang dirasakan ahli neraka pada Hari Kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya (HR al-Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir).

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan manusia mengenai dahsyatnya azab neraka di akhirat nanti. Azab neraka tersebut disediakan bagi orang yang mendustakan petunjuk Allah SWT dan berpaling dari-Nya serta yang gemar berbuat  dosa dan maksiat kepada-Nya. Ironisnya, bukannya takut azab neraka, sebagian dari para pendosa dan pelaku maksiat itu malah ada yang melakukan semua itu dengan perasaan bangga, tanpa ada rasa bersalah atau merasakan penyesalan sedikitpun.

Yang pasti, penyesalan akan mereka rasakan di akhirat nanti, yakni saat Allah SWT meminta pertanggungjawaban atas setiap perbuatan manusia yang dilakukan di dunia. Saat itu seluruh manusia dikumpulkan di Padang Makhsyar. Seluruh manusia tidak diperkenankan berbicara kecuali dengan izin-Nya dan berkata benar (Lihat: QS an-Naba’ [78]: 38). Mereka juga tidak diberikan kesempatan membuat-buat alasan (Lihat: QS al-Mursalat [77]: 35-36). Bahkan mulut mereka pun dikunci dan tidak bisa bicara (Lihat: QS Yasin [36]: 65). Yang akan bersaksi secara jujur adalah tangan dan kaki mereka serta anggota tubuh mereka. Saat itu, satu-satunya hukum yang berlaku untuk mengadili manusia adalah hukum Allah SWT. Saat itu Allah SWT adalah satu-satunya Hakim yang mengadili manusia dengan seadil-adilnya. Allahlah yang akan mengadili semua perbuatan yang menyimpang dari syariah-Nya. Allah SWT pula yang akan menimpakan azab yang keras kepada para pendosa, yang gemar berbuat maksiat saat di dunia. Mereka ini akan dilemparkan ke dalam azab yang mengerikan, yakni neraka yang menyala-nyala. Na’udzu bilLahi min dzalik.

Wa ma tawiqi illa bilLah [] abi http://hizbut-tahrir.or.id/2012/02/14/ancaman-neraka-bagi-para-pendosa/

Kemunduran Amerika dan Masa Depan Dua Sistem Politik

Syabab.ComJatuhnya Amerika tidak harus merupakan kehancuran total – bagaimanapun juga, negara itu sebelumnya adalah sebuah negara yang telah berhasil menemukan jati dirinya berkali-kali. Tapi pada saat ini tidak lagi pasti– atau bahkan mungkin – segala sesuatunya akan berakhir dengan baik. – Der Spiegel

 

Seperti yang kita tahu, dunia saat ini berada dalam krisis politik berkepanjangan yang memungkinkan membentuk ulang tatanan politik yang ada saat ini untuk beberapa dekade mendatang. Taruhannya adalah nasib dua sistem politik yang saling terkait erat dan perlahan-lahan terurai di sisi yang berlawanan di dunia.

Di Barat, Uni Eropa yang dulunya perkasa, yang pernah menjadi benteng stabilitas dan kekuatan kini berjalan terhuyung-huyung di tepi jurang. Krisis utang euro yang telah melanda benua itu, telah mengancam melepaskan kekuatan gelap nasionalismenya yang tertidur selama enam puluh tahun.

Di Timur, Dunia Arab yang diperbudak oleh rezim-rezim otokratis yang disusupkan oleh kekuatan-kekuatan Eropa mulai berjatuhan seperti kartu domino, dan mengungkap kekuatan-kekuatan perubahan yang dinamis namun belum teruji.

Peristiwa-peristiwa ini jika dilihat melalui kaca mata optimisme diinterpretasikan secara positif oleh sebagian orang; Eropa akan menjadi lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya, dan Dunia Arab akan berubah menjadi sebuah oasis kebebasan dan demokrasi.

Namun bila dilihat melalui kaca mata realisme,  gambar yang muncul akan sama sekali berbeda. Eksperimen yang dilakukan oleh pasca-modern Eropa secara cepat akan segera berakhir, dan Dunia Arab akhirnya akan membebaskan dirinya dari belenggu setan kolonialisme dengan mencabut rezim-rezim otokratis pro-Barat. Kematian kedua sistem politik itu tidaklah terjadi secara kebetulan, namun terkait dengan kemunduran pengaruh Amerika secara global. Dalam banyak hal, sistem politik di Eropa dan Dunia Arab merupakan produk dari hegemoni dan kelicikan Amerika.

The Marshall Plan memberikan bangunan bagi Amerika untuk mengendalikan kecenderungan Eropa untuk melakukan perang dan mengekang ambisi benua itu untuk mencari dan mempertahankan koloni-koloninya di luar negeri. Pasca Perang Dunia II, para pemimpin Amerika berusaha untuk mengurangi dominasi Eropa di dunia. Seperti dikatakan oleh sejarawan John Lumberton Harper, Presiden AS Roosevelt ingin “melakukan pengurangan secara radikal bobot pengaruh Eropa” sehingga dengan demikian memungkinkan untuk “mempensiunkan Eropa dari percaturan politik dunia” (Harper, Visions of Europe : Franklin D. Roosevelt , George F. Kennan, dan Dean G. Acheson, Cambridge UK , 1996).

Di bawah bayang-bayang bantuan ekonomi dan arsitektur keamanan Amerika, Eropa yang porak-poranda oleh perang dunia memetakan rute baru menuju postmodernisme- suatu pemutusan atas negara-bangsa yang bertikai yang telah merongrong benua itu di masa lalu. Akhirnya, lahirlah Uni Eropa (UE), di mana nasionalisme ditekan dan kedaulatan nasional memberi jalan kepada otoritas transnasional untuk memimpin di Brussels. Eropa mengaggumi penciptaan postmodern mereka dan menyebutnya sebagai evolusi alami dari model negara bangsa. Seorang pendukung utama dari model ini, Robert Cooper yang merupakan penasehat mantan Perdana Menteri Tony Blair, mengatakan, “Sistem postmodernisme di mana kita, orang Eropa,  hidup tidak bergantung pada keseimbangan;. Tidak juga menekankan pada kedaulatan atau pemisahan urusan dalam negeri dan urusan luar negeri.

Uni Eropa telah menjadi sistem yang berkembang dengan pesat untuk saling melakukan campur tangan urusan dalam negeri masing-masing, hingga pada urusan bir dan sosis … Penting untuk disadari betapa hal ini merupakan revolusi yang luar biasa. ” (The New Liberal Imperialisme, The Guardian, Minggu 7 April 2002). Namun, lahirnya negara postmodern juga memakan biaya. Uni Eropa tidak dalam posisi untuk menantang supremasi Amerika di dunia dan telah memberikan banyak koloninya kepada negeri itu. Amerika menggunakan banyak cara untuk menundukkan Uni Eropa, terutama pada anggota terkuatnya, Jerman: perluasan NATO,  ekspansi Uni Eropa untuk memasukkan negara-negara anggota baru, dan penggunaan mata uang tunggal yakni euro.

Melalui pendekatan ini, Amerika mampu mengontrol tuas kekuatan ekonomi dan militer di Eropa. Hal ini berlanjut hingga runtuhnya Lehman Brothers, yang mengakibatkan terjadinya depresi ekonomi saat ini. Krisis keuangan Amerika adalah penyebab sebenarnya di balik gejolak ekonomi dan politik Eropa. Hal ini mempercepat keruntuhan Uni Eropa sehingga merusak supremasi Amerika selama enam puluh tahun atas urusan-urusan Eropa. Mungkin, Jerman akan muncul dari reruntuhan Uni Eropa sebagai kekuatan utama yang tidak hanya mampu menggagalkan kepentingan Amerika di Eropa, tetapi menggantikan negara itu sebagai penjamin utama perdamaian dan keamanan di benua itu. Krisis euro dan buka Militerisme Jerman telah mejadikan Berlin untuk bisa melakukan apapun untuk membentuk peta politik Eropa dengan gambarannya sendiri.

Pertanda lain adalah bahwa dalam konteks sejarah Eropa, pengalaman postmodern benar-benar merupakan sebuah anomali. Kecendrungan Eropa adalah untuk menghindari perdamaian dan terlibat dalam perang yang dipicu oleh nasionalisme yang tak terkendali dan nafsu menguasai bangsa-bangsa lain.

Dunia Arab pada hari ini  berutang banyak pada struktur politik dan lembaga-lembaga pada kekuatan-kekuatan Eropa lama yang menjajahnya  itu. Namun, setelah tahun 1945, Amerika muncul sebagai negara terkemuka di dunia dan memasuki dunia Arab dengan tujuan menggusur pengaruh Inggris dan Perancis, dan merebut ladang-ladang minyak Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS menggambarkan penemuan itu sebagai “[Timur Tengah] merupakan sumber kekuatan strategis yang luar biasa, dan salah satu hadiah terbesar pada sejarah dunia.”

Amerika tidak berniat untuk menggantikan rezim-rezim despotik itu, melainkan berusaha menempatkan agen-agennya sebagai rezim-rezim sementara sambil membuat alasan-alasan palsu tentang kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia. Amerika dengan bermodal “Doktrin Truman” mulai melanjutkan mencabut kebebasan Dunia Arab dari para tiran dan kemampuan untuk memerintah diri sendiri. Negara itu secara diam-diam menopang rezim-rezim itu agar penduduk negara-negara Arab tetap terpenjara dan tunduk. Tapi pada tahun 2011, pemberontakan rakyat meletus di seluruh wilayah negara-negara Arab, dengan menjatuhkan sebagian tiran, dan menggoyahkan tatanan politik yang telah dibangun dengan susah payah untuk disatukan oleh Amerika.

Pada saat ini, percaturan politik tidak lagi didominasi oleh kaum sekularis, namun sebuah gelombang baru kebangkitan Islam dengan cepat mengisi kekosongan ini. Di Maroko, Tunisia, dan Mesir Islam politik mulai naik dan mendominasi media politik. Kemungkinan besar Libya dan Yaman akan juga mengikuti. Tidak ada ungkapan yang melambangkan tren Islam saat ini yang lebih baik daripada yang dikatakan oleh Perdana Menteri Tunisia moderat, Hamadi Jebali, yang menyebut masa kini sebagai “momen ilahi pada sebuah negara baru, dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6,” dan bahwa “pembebasan Tunisia akan, Insya Allah, menyebabkan pembebasan Yerusalem. ” Jika kaum moderat memiliki desain megah untuk menghidupkan kembali Kekhalifahan maka seorang dapat menggambarkan apa yang paling diinginkan oleh massa Arab.

Konsep negara bangsa merupakan hal yang asing bagi dunia Arab, dan diimpor ke wilayah tersebut oleh kekuatan-kekuatan Eropa. Kecenderungan alami dari massa Arab adalah tertarik terhadap sistem Khilafah-sebuah sistim politik yang membuat mereka bersatu di bawah seorang pemimpin tunggal selama lebih dari seribu tahun. Dan tentu saja dunia Arab sungguh berada pada lintasan itu, dengan tidak mempedulikan apa yang digambarkan oleh pemerintah Amerika.

Pada saat Amerika sedang berjuang untuk menjaga dirinya dari kemerosotan, nasib dua sistem politik akan berubah untuk selamanya. Dunia kemudian akan kembali kepada model masa pra-1945- yang merupakan dunia multipolar, yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya. Sumber: http://www.khilafah.com [kcom/syabab.com]

Tantangan Dakwah

Syabab.Com – “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah.  Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan(TQS al-Hasyr [59]:18).

Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah!  Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah ‘Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok’ artinya adalah, ‘Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa.  ‘Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan’ maknanya adalah, ‘Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.’  Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah.  Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, hlm. 548).

Salah satu pelajaran penting dari ayat itu adalah bahwa hidup di dunia ini mulai dari takwa, diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut.

Selama tahun 2011 suara yang menyeru untuk kembali ke pangkuan syariah makin nyaring terdengar.  Kawasan Timur Tengah sepanjang tahun ini terus menerus diguncang revolusi.  Tunisia, Maroko, Libya, Yaman, Suriah dan Mesir berguncang.  Gejolak revolusi umat terus menggelora. Islam politik di kawasan itu mulai naik bahkan mendominasi media massa.  Terlepas dari apa yang dimaksud, pernyataan Perdana Menteri Tunisia, Hamadi Jebali, menarik disimak.  Hamadi menyampaikan, “Masa kini adalah momentum Ilahi pada sebuah negara baru dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6.”

Ucapan seperti ini dari seorang moderat menggambarkan betapa keinginan masyarakat di sana untuk menerapkan Islam demikian besar sehingga berpengaruh pada ucapan Hamadi. Memang, kecenderungan alami dari masyarakat Arab lebih tertarik pada sistem Khilafah. Inilah ajaran agama mereka dan bagian dari sejarah mereka.

Di sisi lain, Eropa sedang dilanda gunjang-ganjing.  Amerika masih berada dalam kubangan krisis.  Gejolak selama tahun 2011 ini mengisyaratkan dunia kemudian akan kembali pada model masa pra-1945-yang  merupakan dunia multipolar-yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya.

Suara yang sama berkumandang di Indonesia.  Dukungan para ulama tampak jelas.  Berbagai forum ulama selama kurun 2011 menyerukan syariah dan Khilafah.  Begitu juga dukungan dari kalangan tokoh, intelektual, mahasiswa dan pelajar.  Tidak kalah pentingnya, kembali pada syariah Islam dan menyatukan kaum Muslim ke dalam Khilafah juga diserukan oleh ibu-ibu rumah tangga.  Ini sebagian tanda makin dekatnya fajar kemenangan.

Bukan hanya harapan yang terang, tantangan dakwah Islam di Indonesia pun tidak menyurut. Ketidakadilan terhadap umat Islam terus berlangsung selama tahun 2011, yang bahkan dilakukan oleh sesama Muslim.  Ketika terjadi bunuh diri di Cirebon dan Solo, langsung Presiden menyebut bahwa pelakunya adalah teroris hanya karena pelakunya beragama Islam.  Namun, saat di Papua meledak granat disertai penembakan, buru-buru Ansyaad Mbai, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan bahwa itu tindak kriminal biasa.  Pada saat umat Islam menyerukan syariah Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, segeralah mereka dituduh sebagai pihak yang membahayakan NKRI.  Sebaliknya, upaya separatisme dan disintegrasi yang secara terang-terangan dinyatakan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak disebut membahayakan NKRI.  Bahkan TNI dan Polisi yang berupaya menindak tegas mereka segera dituduh oleh LSM-LSM komprador sebagai melanggar HAM.  Intervensi Amerika Serikat (AS) dalam kasus ini tampak jelas.  Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) membicarakan Papua.  Berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton angkat suara mengenai konflik di Papua. Hillary menyampaikan kekhawatiran akan kondisi HAM di Papua. Ia menyerukan adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di wilayah konflik tersebut (AFP, 11/11/11). Obama dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY di Bali juga menyinggung masalah Papua.  Irama yang ditabuh asing ini diikuti oleh antek-anteknya di dalam negeri.

Persoalan calon Gereja Yasmin di Bogor menambah rasa ketidakadilan itu.  Umat Islam di Bogor dituding tidak toleran.  Padahal umat Islam Bogor ditipu. Ada penipuan dalam proses pengajuan izin IMB calon gereja tersebut.  Hilary Clinton bicara tentang kasus ini. Vatikan turut campur. Pada 16 Desember 2011 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengadakan rapat dengan Pemerintah membahas hal ini.  Masalah ini diinternasionalisasi.  Memang, kalau untuk memojokkan umat Islam, suara jarum jatuh pun terdengar ke seantero dunia!

Bukan hanya itu.  Untuk mengerem gerak perjuangan Islam digembar-gemborkan istilah deradikalisasi.  Selama tahun 2011 digelar berbagai acara di daerah-daerah.  Pimpinan dan ormas Islam dikumpulkan.  Temanya deradikalisasi.  Yang mengherankan, semua yang dimaksudkan dalam istilah deradikalisasi ditujukan kepada umat Islam!  Sasarannya adalah Islam.  Benar apa yang diingatkan oleh pengamat politik Herman Ibrahim bahwa hakikat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dalam deradikalisasi pun terdapat politik belah-bambu di tubuh umat Islam.  Last but not least, deradikalisasi ini tidak dapat dilepaskan dari program war on terrorism yang merupakan agenda AS.  Yang rugi adalah umat Islam sendiri.

Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah.  Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan.  Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan.  Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb.  Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan.  Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat.  Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual.  Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT.  Rasulullah saw. bersabda, “Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.” (HR Muslim). [MR Kurnia]

#bukan sebuah alur cerita yang penuh retorika belaka#

 

 

 

 

 

 

 

Membunuh kembali Keangkuhan dan Kesombongan,

Menyelamatkan kembali kemuliaan yang tertawan akan berbagai keraguan, kebohongan, dan kemunafikan.
hinggaaaaa….

dapat kembali ke jalan pulang dengan sejuta jawaban,

tanpa mengharap secercah belas kasihan,

karena itu dapat merusak KeIKHLASan.
(Sang Pujangga Revolusi, pada BAB terakhir 2011)

Hukum Syariat Tentang Menyambut Tamu Penguasa Kafir Imperialis

Perintah Memulyakan Tamu

Salah satu kewajiban yang dibebankan syariat kepada kaum Muslim adalah menyambut dan memulyakan tamu. Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali persahabatan; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik-baik saja atau hendaklah dia diam saja.”[HR. Bukhari dan Muslim]

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ قَالُوا وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya pada saat istimewanya. “ Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw, apakah saat istimewa itu? Beliau bersabda, “Hari dan malam pertamanya. Bertamu itu adalah tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari, maka itu adalah sedekah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Tamu yang disebut di dalam hadits di atas mencakup tamu Mukmin maupun kafir. Kata “dlaifahu” termasuk dalam lafadz umum, sehingga mencakup semua jenis tamu; baik tamu Mukmin, kafir, laki-laki, maupun perempuan. Semua tamu wajib disambut dan dimulyakan dan dihormati berdasarkan nash-nash hadits di atas. Seorang Muslim juga diperintahkan untuk memenuhi hak-hak tamu, sekadar dengan kemampuannya.

Hukum Syara’ Tentang Menerima Tamu dari Kalangan Penguasa Imperialis

Lalu, bagaimana jika tamu yang hendak berkunjung adalah penguasa-penguasa kafir imperialis yang telah terbukti mendzalimi, menganiaya, menjajah, membunuhi kaum Muslim, dan berusaha menistakan kesucian agama Islam? Apakah, ketentuan-ketentuan dalam hadits di atas tetap berlaku?

Jawabnya jelas, seorang Muslim dilarang (haram) menerima kunjungan, menyambut dan memulyakan tamu dari kalangan penguasa kafir imperialis yang jelas-jelas telah terbukti merampas harta, menciderai kehormatan, dan melenyapkan ribuan jiwa kaum Muslim. Alasannya sebagai berikut;

Pertama, larangan menampakkan loyalitas dan kasih sayang kepada orang-orang kafir, lebih-lebih lagi kafir imperialis yang menghisap harta dan darah kaum Muslim. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)”. [TQS Al Mumtahanah (60):1]

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ$ هَا أَنْتُمْ أُولاَءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوْ كُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. [TQS. Ali ‘Imran (3): 118-119]

Kunjungan Barack Obama –penguasa kafir imperialis yang telah membunuhi ribuan kaum Muslim di Irak, Afghanistan, dan pendukung utama negara teroris Israel–, jelas-jelas harus ditolak, dan jika ia memaksa datang, tidak boleh disambut dengan sambutan mulia dan kasih sayang. Pasalnya, ia adalah musuh Islam dan kaum Muslim. Selain itu, kunjungannya di Indonesia diduga membawa agenda-agenda jahat, semacam liberalisasi ekonomi, demokratisasi, serta pressure politik-pressure politik yang merugikan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Lantas, bagaimana kita akan menerima kunjungannya dan menampakkan rasa hormat dan menyambutnya dengan sambutan kasih sayang –yang sebenarnya ini adalah watak asli umat Islam–, jika orang yang hendak datang adalah penguasa kafir yang dzalim dan lalim terhadap umat Islam?

Kedua, larangan menyakiti kaum Muslim. Penerimaan dan penyambutan Barack Obama di negeri ini, tentu saja akan menyebabkan bertambahnya penderitaan dan rasa sakit kaum Muslim yang pada saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina, dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya. Padahal, Allah swt dan RasulNya telah melarang kaum Muslim menyakiti saudaranya sendiri, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.[TQS Al Ahzab (33):58]

Nabi saw melalui lisannya yang suci bersabda:

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak akan menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Penerimaan kunjungan Barack Obama tidak hanya menyakiti saudara-saudara Muslim di negeri-negeri yang secara langsung didzalimi dan dijajah oleh Amerika Serikat, tetapi juga wujud “menyerahkan saudara-saudara Muslim kita” kepada musuh Islam dan kaum Muslim. Lantas, bagaimana bisa penguasa negeri ini menerima kunjungan Barack Obama, dan menyambutnya dengan sambutan kenegaraan? Lantas, seandainya negeri ini dikuasai dan diduduki oleh Amerika –dan faktanya kita sekarang sudah dijajah oleh mereka secara non fisik–, lantas apakah kita akan tetap bersikap manis terhadap mereka? Sungguh, hanya orang-orang munafik yang memiliki kasih sayang dan rasa hormat kepada musuh-musuh Allah dan kaum Muslim.

Ketiga, kewajiban membela saudara Muslim yang tidak berada di dekatnya. Nabi Mohammad saw bersabda;

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Barangsiapa yang membela saudaranya saat tidak ada di dekatnya, maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat”. [HR. Imam Asyi Syihab dari Anas bin Malik ra, dalam Musnad Asy Syuihab]

Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap saudara-saudaranya yang pada saat ini dijajah dan dianiaya oleh Amerika Serikat adalah menolak kunjungan mereka, dan tidak menyambutnya dengan keramahan dan kasih sayang. Di dalam hadits-hadits lain, Nabi saw juga bersabda:

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya, maka Allah akan menolak api neraka di Hari Kiamat dari wajahnya”. [HR. Imam Tirmidziy dari Abu Darda’ ra. Hadits Abu Darda ra ini telah ditakhrij oleh Ahmad. Ia berkata hadits ini sanadnya hasan. Al-Haitsami mengatakan hal yang sama)

Hadits riwayat Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma binti Yazid, ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

مَنْ ذَبَّ عَنْ عَرَضِ أَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya pada saat tidak berada di dekatnya, maka Allah pasti akan membebaskannya dari api neraka”.[HR. Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma’ binti Yazid]

Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap kaum Muslim di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina yang saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika, adalah menolak kunjungan, kerjasama, maupun intervensi non fisik dari penguasa-penguasa kafir imperialis dan antek-anteknya, semacam Amerika, Inggris, dan Israel.

Keempat, perilaku shahabat. Selain nash-nash di atas, perilaku generasi salafush shalih juga menunjukkan kepada kita, bagaimana sikap seharusnya seorang Muslim. Riwayat-riwayat berikut ini menunjukkan bagaimana perilaku shahabat terhadap orang-orang kafir, lebih-lebih yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Salamah bin Al Akwa’ ra, bahwasanya ia berkata;

…فَلَمَّا اصْطَلَحْنَا نَحْنُ وَأَهْلُ مَكَّةَ، وَاخْتَلَطَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ، أَتَيْتُ شَجَرَةً، فَكَسَحْتُ شَوْكَهَا، فَاضْطَجَعْتُ فِي أَصْلِهَا، قَالَ: فَأَتَانِي أَرْبَعَةٌ مِنْ الْمُشْرِكِينَ، مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ، فَجَعَلُوا يَقَعُونَ فِي رَسُولِ اللهِ ، فَأَبْغَضْتُهُمْ، فَتَحَوَّلْتُ إِلَى شَجَرَةٍ أُخْرَى

“Ketika kami berdamai dengan penduduk Makkah dan sebagian kami bercampur dengan sebagian mereka, aku mendatangi suatu pohon kemudian aku menyingkirkan durinya dan aku merebahkan diriku di akarnya. Kemudian datang kepadaku empat orang kaum Musyrik Makkah. Mereka mulai membicarakan Rasulullah, maka aku pun membenci mereka, hingga aku pindah ke pohon yang lain”.[HR. Imam Muslim]

Imam Ahmad menuturkan sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Abdullah bin Rawahah berkata kepada Yahudi Khaibar:

«يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ، أَنْتُمْ أَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَيَّ، قَتَلْتُمْ أَنْبِيَاءَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،وَكَذَبْتُمْ عَلَى اللهِ، وَلَيْسَ يَحْمِلُنِي بُغْضِي إِيَاكُمْ عَلَى أَنْ أَحِيفَ وَكَذَبْتُمْ عَلَى اللهِ، وَلَيْسَ يَحْمِلُنِي بُغْضِي إِيَّاكُمْ عَلَى أَنْ أَحِيفَ عَلَيْكُمْ…»

“Wahai kaum Yahudi! Kalian adalah makhluk Allah yang paling aku benci. Kalian telah membunuh para Nabi dan telah mendustakan Allah. Tapi kebencianku kepada kalian tidak akan mendorongku untuk berlaku sewenang-wenang kepada kalian”.[HR. Imam Ahmad]

Imam Ahmad, Abdur Razak, Al Hakim, dan Abu Ya’la menuturkan hadits hasan dari Abu Faras, ia berkata; Umar bin Khathab pernah berkhutbah dan berkata:

…مَنْ أَظْهَرَ مِنْكُمْ شَرًّا، ظَنَنَّا بِهِ شَرًّا، وأَبْغَضْنَاهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa di antara kalian menampakan suatu kejahatan, maka kami akan menduganya berlaku jahat, dan kami akan membencinya karena kejahatan itu..” [HR. Imam Ahmad, Abdur Razaq, Al Hakim, dan Abu Ya’la. Imam Al Hakim menyatakan bahwa hadits ini hasan menurut syarat Imam Muslim]

Menepis Syubhat

Adapun riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw pernah menerima utusan Musailamah Al Kadzdzab, dan Abu Sofyan pemimpin Quraisy. Riwayat-riwayat ini sering dijadikan argumentasi bolehnya seorang Muslim menerima kunjungan dan menyambut tamu dari kalangan orang kafir penjajah. Padahal, dengan pembacaan yang seksama dan teliti dapatlah disimpulkan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak layak dijadikan hujjah atas argumentasi mereka. Untuk itu, kami perlu memaparkan panjang lebar riwayat tersebut agar tidak ada kesalahan dalam penarikan kesimpulannya.

Imam Ahmad dan Abu Dawud menuturkan sebuah riwayat dari Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’iy ra bahwasanya ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata kepada dua orang utusan, ketika beliau saw membaca surat Musailamah al-Kadzdzab, “Apa yang hendak kalian katakan?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Musailamah al-Kadzdzab.” Nabi saw pun bersabda, “Demi Allah, seandainya bukan karena para utusan tidak boleh diutus, niscaya akan kupenggal leher kalian berdua”.[HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud]

Di dalam Sunan Abu Dawud dikisahkan bahwasanya, ‘Abdullah bin Mas’ud pernah menjalin pershahabatan dengan seorang Arab, lalu beliau berkehendak untuk mengunjunginya. Dalam perjalanannya, beliau melewati sebuah masjid milik Bani Hanifah, dan disaksikannya bahwa Bani Hanifah telah menjadi pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Melihat keadaan itu, ‘Abdullah bin Mas’ud ra diutus menemui mereka untuk menyadarkan mereka. Beliau ra pun menemui mereka dan menyadarkan kesesatan dan kekeliruan mereka. Setelah mendapatkan penjelasan dari beliau, semua penduduk Bani Hanifah kembali ke pangkuan Islam, kecuali Ibnu Nawwahah. Ia tetap bersikukuh menjadi pengikut setia Musailamah al-Kadzdzab. Ibnu Mas’ud ra berkata kepadanya, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Seandainya engkau bukan seorang utusan, niscaya sudah aku penggal lehermu”. Akan tetapi, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan”. Ibnu Mas’ud segera memerintahkan Qurzah bin Ka’ab untuk memenggal leher Ibnu Nawwahah. Dan akhirnya, Ibnu Nawwahah dipenggal lehernya di pasar. Setelah itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa saja yang ingin mengetahui Ibnu Nawwahah, kini ia telah terbunuh di pasar”.

Dari paparan seluruh riwayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa seorang utusan yang datang ke dalam Daulah Khilafah Islamiyyah haruslah mendapatkan perlindungan, selama mereka adalah berkedudukan sebagai utusan (delegasi). Dengan demikian, riwayat-riwayat di atas berhubungan dengan dengan hukum melindungi utusan, bukan berkaitan dengan hukum menerima dan menyambut tamu. Bahkan, di dalam riwayat itu jelas sekali ditunjukkan, bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap utusan-utusan kaum kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Sabda beliau, “Seandainya engkau bukan seorang utusan, niscaya sudah aku penggal lehermu”, menunjukkan bahwa beliau bersikap sangat keras dan tidak menunjukkan penerimaan yang ramah terhadap mereka. Begitu pula sikap seharusnya penguasa Muslim ketika menghadapi penguasa kafir penjajah yang memusuhi umat Islam, yakni menekan, merendahkan, mengancam, dan memerangi mereka jika mereka tidak menghentikan permusuhan dan penganiayaan mereka terhadap umat Islam.

Begitu pula riwayat mengenai kunjungan Abu Sofyan kepada Madinah, juga tidak berhubungan dengan penyambutan tamu atau penghormatan tamu dari kalangan penguasa kafir. Kunjungan Abu Sofyan ke Madinah dikarenakan ia ingin memperbarui perjanjian dengan Rasulullah saw setelah sebelumnya orang-orang Quraisy menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Nabi saw. Penyerangan Quraisy terhadap Bani Khuza’ah tersebut telah membatalkan perjanjian Hudaibiyyah yang ditandatangani antara Kaum Quraisy dan Nabi saw. Oleh karena itu, Abu Sofyan mendatangi Nabi saw di Madinah untuk memulihkan perjanjian damai. Ibnu Hisyam dalam Kitab Sirahnya menceritakan peristiwa ini sebagai berikut, “Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Abu Sofyan bin Harb datang ke tempat Nabi saw. Ia berbicara dengan beliau, namun beliau saw tidak menggubrisnya. Lalu, Abu Sofyan pergi ke tempat Abu Bakar ra, dan menyuruhnya berbicara dengan Rasulullah saw, namun Abu Bakar berkata, “Aku tidak mau!”. Kemudian, Abu Sofyan bin Harb mendatangi rumah Umar bin Khaththab dan berbicara dengannya, namun Umar malah berkata, “Aku harus membelamu di hadapan Rasulullah saw? Demi Allah, jika aku hanya mendapatkan semut kecil, aku akan memerangimu bersamanya”. Abu Sofyan keluar dari rumah Umar bin Khaththab ra dan menemui Ali bin Abi Thalib ra yang saat itu sedang bersama dengan isterinya, Fathimah binti Mohammad saw dan anak keduanya, Hasan bin ‘Ali yang sedang merangkak. Abu Sofyan berkata, “Hai, Ali, engkau adalah orang yang paling penyayang. Aku datang kepadamu untuk satu keperluan, oleh karena itu, jangan pulangkan aku dalam keadaan gagal total. Belalah aku di hadapan Rasulullah saw”. Ali bin Abi Thalib berkata, “Celakalah kamu, hai Abu Sofyan! Demi Allah, Rasulullah saw telah bertekad kepada sesuatu dan kita tidak bisa bernegoisasi dengan beliau”. Abu Sofyan menoleh kepada Fathimah binti Mohammad, seraya berkata, “Wahai putri Mohammad, maukah engkau menyuruh anak kecilmu ini melindungi manusia, kemudian ia akan menjadi pemimpin Arab sepanjang zaman? Fathimah menjawab, “Demi Allah, annakku tidak bisa melindungi manusia dan seorangpun tidak bisa melindungi mereka dari Rasulullah saw…. Abu Sofyan menaiki untanya dan pulang ke Makkah. Sesampainya di Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, “Informasi apa yang engkau bawa? Abu Sofyan bin Harb berkata, “Aku datang kepada Mohammad saw kemudian berbicara dengannya, namun ia tidak menyahut sedikitpun. Kemudian aku datang kepada Abu Bakar, namun aku tidak melihat kebaikan sedikitpun dari dirinya. Lalu, aku menemui Umar bin Khaththab dan mendapatinya orang yang paling keras permusuhannya. Kemudian aku datang kepada Ali bin Abi Thalib dan mendapatinya orang yang paling lembut. Ia menasehatiku untuk melakukan sesuatu, namun demi Allah, aku tidak tahu apakah sesuatu itu bermanfaat bagiku atau tidak. Orang-orang Quraisy berkata, “Apa yang diperintahkan Ali bin Abi Thalib kepadamu? Abu Sofyan bin Harb menjawab, “Aku disuruh untuk melindungi manusia dan aku pun melakukannya”. Orang-orang Quriasy berkata lagi, “Apakah Mohammad membolehkannya? Abu Sofyan menjawab, “Tidak!”. Orang-orang Quraisy berkata, “Celakalah engkau! Engkau telah dipermainkan oleh Ali bin Abi Thalib. Apa yang engkau katakan tadi sama sekali tidak bermanfaat bagimu”. Abu Sofyan berkata, “Demi Allah, aku tidak memiliki alternatif lain”. [Ibnu Hisyam, As Sirah An Nabawiyyah, hal.735]

Riwayat ini menunjukkan dengan sangat jelas, bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap Abu Sofyan, beliau saw sama sekali tidak menggubris kedatangannya, bahkan beliau siap menyerang Mekah, karena pengkhianatan kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyyah. Nabi saw tidak pernah menerima dan menyambut Abi Sofyan bin Harb dengan penyambutan kenegaraan yang menunjukkan rasa hormat dan belas kasih, namun beliau saw memperlakukan Abu Sofyan ra dengan sangat keras, hingga harga diri dan kesombongan Abu Sofyan luruh bagaikan sekawanan laron yang tersambar api pelita. Lalu, dari arah mana bisa dinyatakan bahwa para penguasa negeri-negeri Islam wajib menerima, menyambut, dan memulyakan tamu dari kalangan para penguasa kafir yang lalim dan dzalim itu, dengan alasan bahwa Nabi saw pernah menerima dan menyambut Abu Sofyan bin Harb? Padahal, bukankah Nabi saw jelas-jelas menolak dan tidak menggubris kedatangan Abu Sofyan bin Harb, begitu pula sikap para shahabat? Atas dasar itu, menggunakan kisah kedatangan Abu Sofyan ke Madinah adalah istinbath yang keliru dan mengada-ada.

Lalu, setelah penjelasan ini, masihkah ada orang yang tetap bersikukuh untuk menerima, menyambut, dan menghormati kedatangan penguasa kafir yang jelas-jelas terbukti menganiaya dan membunuhi ribuan kaum Muslim, serta merampok dan menguras habis kekayaan umat Islam?

Kesimpulannya:

(1) seorang Muslim, lebih-lebih lagi penguasa Muslim dilarang (haram) menerima dan menyambut kedatangan penguasa kafir yang jelas-jelas memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim,

(2) sikap sejati seorang Muslim adalah bersikap keras terhadap orang-orang kafir, dan membela saudara-saudaranya yang saat ini tengah dianiaya oleh orang-orang kafir,

(3) jika penguasa Muslim memiliki kemampuan, maka ia wajib membebaskan saudara-saudara Muslimnya dari penjajahan, penganiayaan, serta pembunuhan yang dilakukan oleh kafir imperialis, dengan mencurahkan segenap kemampuan fisik maupun non fisiknya. Wallahul Musta’aan Wa Huwa Waliyut Taufiq. [Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy; Lajnah Tsaqofi Hizbut Tahrir Indonesia]